Minggu, 21 Februari 2016

Makalah Revolusi Mental



 

REVOLUSI MENTAL


Nama             : Erwin Nurdiansah
Kelas              : BM 4
Mata Kuliah   : Kewiraan
NIM                : 241.15.05196














KATA PENGANTAR
Krisis karakter belum menunjukkan gejala perbaikan. Janji negara hadir di setiap persoalan, realisasinya masih belum memenuhi harapan publik. Hampir satu tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, implementasi revolusi mental belum terlihat. Jangan sampai revolusi mental tinggal slogan semata. Gotong royong yang menjadi nilai fundamental bangsa, yang seharusnya dimaknai sikap saling tolong-menolong dalam kebaikan dan pembangunan, malah memudar. Gotong royong kini menonjol dari sisi negatif, tolong-menolong dalam kejahatan dan perusakan.
Dari sisi kualitas, pelayanan negara kepada rakyat juga belum optimal. Reformasi birokrasi belum mampu menciptakan aparatur sipil negara yang bekerja keras, bekerja tangkas, dan gigih untuk meraih mutu terbaik melayani rakyat. Nilai-nilai luhur seperti kejujuran, amanah, dan bersih masih kerap diabaikan.
Revolusi mental diyakini bisa membawa bangsa Indonesia menjadi karakter yang kuat, jujur, dan beretot kerja tinggi sehingga mampu menyusul keberhasilan Singapura, Jepang, dan Korea Selatan.
Cara terbaik adalah melibatkan partisipasi berbagai agen sosial dari kalangan masyarakat sipil, masyarakat media, pekerja budaya, dunia pendidikan, dan dunia usaha,















DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
A.      PENGERTIAN ……………………………………………………………………………………………………………..
B.      TUJUAN REVOLUSI MENTAL ………………………………………………………………………………………
C.      PRINSIP REVOLUSI MENTAL ……………………………………………………………………………………….
BAB II ISI
A.      BLUE PRINT PENCIPTAAN MANUSIA…………………………………………………………………………..
I.HAK ASASI MANUSIA
II.KEWAJIBAN MANUSIA
III.TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA
B.      PANCASILA YANG SESUNGGUHNYA ………………………………………………………………………….
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN …………………………………………………………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………………………………………………
















BAB I PENDAHULUAN

A.    PENGERTIAN
Revolusi mental merupakan suatu gerakan seluruh masyarakat (pemerintah dan  rakyat) dengan cara yang cepat untuk mengangkat kembali nilainilai strategis yang diperlukan oleh Bangsa dan Negara. untuk mampu menciptakan ketertiban dan kesejahteraan rakyat sehingga dapat memenangkan persaingan di era globalisasi.
Revolusi Mental mengubah cara pandang, pikiran, sikap, perilaku yang berorientasi pada kemajuan dan kemodernan, sehingga Indonesia menjadi bangsa besar dan mampu berkompetisi dengan bangsabangsa lain di dunia.
B.     Tujuan Revolusi Mental
·         Mengubah cara pandang, pikir dan sikap, perilaku dan cara kerja.
·         Membangkitkan kesadaran dan membangun sikap optimstik.
·         Mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian.

C.    Prinsip Revolusi Mental
·         Bukan Proyek tapi gerakan sosial
·         Ada tekad politik untuk menjamin kesungguhan pemerintah
·         Harus Bersifat lintas-sektoral
·         Bersifat partisipatif (kolaborasi pemerintah, masyarakat sipil, sektor privat, dan akademisi)
·         Diawali dengan pemicu (value attack)
·         Desain program harus ramah pengguna, popular, menjadi bagian dari gaya hidup, dan sistemik-holistik (berencana-semesta)
·         Nilai-nilai yang dikembangkan bertujuan mengatur kehidupan sosial (moralitas publik)
·         Dapat diukur dampaknya.
Strategi internalisasi
·         Jalur birokrasi
·         Jalur pendidikan
·         Jalur swasta
·         Jalur kelompok masyarakat
I. Jalur Birokrasi
Internalisasi 3 nilai revolusi mental Pada kementerian/lembaga melalui :

·         pembentukan gugus tugas dan pic
·         tersusunnya program, kegiatan nyata , dan indikator k/l, berbasis nilai-nilai revolusi mental.
·         peningkatan pelatihan rm di badan diklat/pusdiklat/balai diklat
·         menjadi contoh tauladan (role model)
II. Jalur pendidikan
·         memperkuat kurikulum pendidikan kewargaan pada semua jenjang, jenis dan jalur pendidikan, untuk membangun integritas, membentuk etos kerja keras dan semangat gotong royong
·         ektra kurikuler revolusi mental di sekolah
·         meningkatnya sarana pendidikan yang merata
·         meningkatnya kompetensi guru dalam mendukung revolusi mental
III. Jalur Swasta
·         Memperkuat kemitraan antara pengusaha kecil dengan pengusaha besar.
·         Insentif pengurangan pajak bagi pengusaha Indonesia yang mengembangkan produk local inovatif
·         Instruksi Presiden kepada pengusaha media untuk berkolaborasi mempromosikan revolusi mental ( pemasangan iklan, iklan produk, in-line text)
·         Mendukung inisiatif usaha kecil menengah menbuka pasar/sentra yang menjual produk lokal yang inovatif, kreatif dan harga terjangkau.
·         Pengembangan lembaga keuangan mikro di desa.
IV. Jalur kelompok masyarakat
·         Pembudayaan 3 nilai Revolusi Mental melalui kelompok masyarakat seperti: Lembaga Sosial, Komunitas Seni Budaya, Komunitas Kreatif, Karang Taruna, BKB (Bina Keluarga Balita), Kelompok Tani, PKK, Remaja Mesjid, Posyandu, Komunitas, dll.
·         Internalisasi nilai RM melalui paket pertemuan kelompok (modul), dengan berbagai media dan metoda seperti; diskusi kelompok, ceramah, kasus, games, bermain peran, online (sesuai buku pedoman yang akan disiapkan bagi fasilitator)
·         Membangun Role Model.
·         Apresiasi terhadap Kelompok Masyarakat
·         Keteladanan oleh tokoh maupun masyarakat lainnya





BAB II ISI

A.   BLUE PRINT’ PENCIPTAAN MANUSIA

Secara Makro penyebab HARMONISASI KEHIDUPAN dan KEDAMAIAN ABADI yang ’tak kunjung terwujud di bumi Indonesia maupun dibelahan bumi lainnya, adalah :
Karena Minimnya ’NALAR’ Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa akan ’BLUE PRINT’ Penciptaan Manusia di bumi ini.
Konteks ’BLUE PRINT’ Penciptaan Manusia adalah :

I.                   HAK AZASI MANUSIA
II.                KEWAJIBAN MANUSIA
III.                TUGAS & TANGGUNG JAWAB MANUSIA


I.     HAK AZASI MANUSIA

1.      STRUKTURAL ALAMIAH ROH MANUSIA (JATI DIRI MANUSIA)

            Secara Historis…, Sang Pencipta menciptakan bumi dan segala isinya cukup hanya dengan ucapan, namun lain halnya pada saat Sang Pencipta menciptakan manusia.  Manusia Pertama (Adam) diciptakan Sang Pencipta dengan membentuk tubuh Adam dari unsur tanah, setelah membentuk tubuh Adam dalam bentuk tubuh Manusia seperti bentuk tubuh saudara dan saya, lalu Sang Pencipta menghebuskan bahagian NafasNYA (Nafas = Kehidupan) kepada tubuh Adam melalui alat pernafasannya.  Menyatunya bahagian Nafas yang dihembuskan Sang Pencipta kepada tubuh adam, maka tubuh Adam yang semula terbuat dari tanah langsung berubah seketika itu juga menjadi daging Tubuh Manusia yang Hidup Sempurna seperti Saudara dan Saya.

Secara Ilmiah…, bahagian Nafas Sang Pencipta yang diberikan atau yang dihembuskan Sang Pencipta dan menyatu pada tubuh Adam adalah yang kita namakan ROH MANUSIA.

Secara Struktural Alamiah ROH MANUSIA yang selama ini telah dikembang-biakan Adam & Hawa melalui proses keturunan dan sekarang ini bersemayam menjadi JATI DIRI Saudara dan Saya, adalah dinamakan SPORA’ DIRI Sang Pencipta yang tentunya memiliki bahagian Kesempurnaan Penciptanya.

Secara Pilosofi SPORA Diri Sang Pencipta yang di-Amanahkan dan dipercayakan sepenuhnya oleh Sang Pencipta bagi kehidupan setiap manusia, adalah merupakan ‘JAMINAN’ yang hidup agar Saudara dan Saya dan umat manusia mampu menyelesaikan Tugas dan Tanggung Jawabnya sesuai ‘MISI’ Sang Pencipta menciptaan Manusia di bumi ini. 

            Fungsi Alamiah ROH MANUSIA (ROH Saudara dan Saya) yang memiliki Kesempurnaan Penciptanya adalah : dijadikan Satu-Satunya ‘ANDALAN’ oleh Sang Pencipta (di bumi ini) untuk menuntaskan ‘MISI’ Penciptaan Manusia sesuai ‘TARGET’ Penciptanya.  Oleh karenanya adalah Sangat Keliru bila ada Persepsi atau Pemikiran atau Ideologi yang menyatakan bahwa : Sang Pencipta menciptakan manusia hanya untuk menyembah dan menyembahNYA.
Minimnya NALAR Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa akan ‘BLUE PRINT’ tentang JATI DIRInya yaitu ‘Spora’ Diri Sang Pencipta yang memiliki KESEMPURNAAN yang berasal dari Penciptanya,  telah mambuat mereka tidak mampu memahami : UNTUK APA Kapasitas Sang Pencipta mem-FASILITASI manusia dengan KESEMPURNAAN yang langsung berasal dari DiriNYA.

Minimnya NALAR akan ROH Manusia yang memiliki KESEMPURNAAN Penciptanya telah membuat mereka :

                                                                                                                                                                                                                                                                                         
Ø  Keliru menilai ROH Manusia (‘Spora’ Diri Sang Pencipta) yang selama ini ada pada dirinya sendiri, yang Mutlak menjadi HAK AZASI  (Pribadi) setiap manusia Yang Sesungguhnya diberikan Sang Pencipta untuk menjadi ‘Jaminan Yang Hidupbagi setiap manusia yang kapasitasnya mampu untuk mengetahui, mampu untuk memahami dan mampu untuk memenuhi segala Tuntutan Sang Pencipta terhadap kehidupan manusia di bumi ini.

AKSI & REAKSI : Kekeliruan itu mengakibatkan Mereka tidak memiliki Mental yang mampu untuk menjalani hidup sesuai “BLUE PRINT” Penciptaan Manusia di bumi ini, atau dengan kata lain telah mengakibatkan Mereka tidak mampu menjalani hidup sesuai Harapan (Amanah) Penciptanya.


Ø    Selalu menganggap dirinya Tidak Sempurna.

      AKSI & REAKSI : Anggapan ketidak sempurnaan itu mengakibatkan Mereka selalu memaklumi kesalahan-kesalahan fatal yang Mereka perbuat dan selalu memaklumi kesalahan-kesalahan fatal yang diperbuat sesamanya Pemimpin.  Yang lebih parah lagi  bila terjadi hal-hal atau Problema (seperi : Fenomena Alam maupun Fenomena Sosial Masyarakat) yang tidak mampu mereka selesaikan  . . . , mereka hanya mampu Pasrah, menjadi Lemah dan mereka selalu menganggap bahwa semua itu adalah sudah menjadi Keinginan Sang Pencipta, padahal hal itu jelas-jelas terjadi karena Kesalahan mereka sendiri.

Ø   Tidak mampu menjalani kehidupan sesuai ‘Target’ Penciptaan Manusia di bumi ini.

      AKSI & REAKSI : Tragisnya Mereka selalu merasa benar dan selalu merasa bangga telah mampu melakukan mengajarkan serta mendoktrinasi kekeliruan Ideologi mereka, kepada turunan maupun masyarakatnya yang ternyata hanya mampu menjalani  kehidupan yang sia-sia bagi Penciptanya.

Ø  Tidak sadar bahwa manusia diciptakan oleh Penciptanya adalah (Harga Mati)  hanya untuk Kepentingan Penciptanya.

      AKSI & REAKSI : Akibatnya Mereka bersikap keras, tamak, psikopad mendahulukan kepentingan Pribadi, Kelompok dan Ras mereka, sehingga menimbulkan polemik-polemik yang sarat akan konflik-konflik yang mengorbankan materi dan jiwa-jiwa manusia yang tak terhitung jumlahnya.

Ø  Tidak akan mampu menyelesaikan Multi Dimensi Problema Hidup yang selama ini dihadapi Bangsa Indonesia pada khususnya dan KRISIS KEMANUSIAAN yang dihadapi umat manusia pada umumnya yang terjadi akibat Akumulasi dan Asimilasi antar Krisis Mentalitas, Krisis Ke-Imanan maupun Krisis Moralitas yang berkepanjangan. 

      AKSI & REAKSI : Akibatnya membuat Multi Dimensi Problema Hidup dan KRISIS KEMANUSIAAN itu MUSTAHIL dapat diselesaikan dengan menggunakan Akal-Pikiran Manusia, dan saat ini hampir mencapai Klimaksnya.

2.      ARTI KEHIDUPAN ROH MANUSIA

   Artikulasi ROH MANUSIA atau ‘Spora’ Diri Sang Pencipta yang diAmanahkan dan diPercayakan Penciptanya kepada setiap manusia (Saudara dan Saya) adalah menjadi WAKIL Sang Pencipta untuk melaksanakan Kehendak (KEWAJIBAN, TUGAS dan TANGGUNG-JAWAB) yang di Amanahkan Sang Pencipta di bumi ini, yaitu untuk mengembalikan Kehidupan Abadi yang pernah diberikan Sang Pencipta kepada seluruh penghuni di bumi (tanpa kecuali). 

Kepercayaan Sang Pencipta terhadap Spora DiriNYA yang
menjadi JATI DIRI setiap Manusia itulah . . . ,  yang membuat
Sang Pencipta tidak perlu hadir di bumi ini


   Minimnya NALAR Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa akan “BLUE PRINT” tentang Artikulasi Kehidupan ROH Manusia di bumi ini, telah membuat :
                                                                                                                                                        
Ø    Mereka Tidak Mampu mengekspresikan Kehidupan Yang Sesungguhnya, yaitu Kehidupan yang Berarti bagi tuntasnya Misi Penciptaan Manusia di bumi ini.

AKSI & REAKSI : Akibatnya timbulah Problematik Kehidupan yang disebabkan oleh perbedaan persepsi dalam meng-Artikulasikan, meng-Ekspresikan atau meng-Iplmentasikan Kehidupan Yang Sesungguhnya di bumi ini.

Ø  Mereka Tidak mampu mengarahkan keturunannya, masyarakatnya untuk sanggup menjalani kehidupan yang berguna bagi tuntasnya MISI Penciptaan Manusia sesuai ‘Target’ Penciptaan Manusia di bumi ini.

AKSI & REAKSI : Akibatnya umat manusia hanya mampu hidup terbelenggu oleh Problema Hidupnya masing-masing tanpa mampu untuk mengetahui lalu melaksanakan Kewajiban, Tugas dan Tanggung-Jawab yang diAmanahkan Penciptanya di bumi ini.

3.      AGAMA YANG SESUNGGUHNYA (PEDOMAN HIDUP YANG SESUNGGUHNYA)

   Disisi lain ROH MANUSIA yaitu ‘Spora Diri Sang Pencipta atau ZAT Sang Pencipta yang memiliki ‘Pengetahuan’ Penciptanya itu diberikan kepada setiap manusia adalah untuk menjadi ‘SOSOKAgama Yang Hidup (Agama yang diberikan langsung dan memiliki KESEMPURNAAN Penciptanya) dan menjadi Satu-Satunya ‘Pedoman’ yang mampu membimbing serta memotivasi setiap manusia sanggup menjalani kehidupan sesuai “BLUE PRINT  Penciptaan Manusia di bumi ini.

   Sang Pencipta membekali manusia dengan AGAMA YANG SESUNGGUHNYA yaitu ‘Spora DiriNYA yang memiliki Kesempurnaan Pencipta, kepada manusia (Adam & Hawa) adalah karena manusia membutuhkan ‘PEDOMAN’ yang kualitasnya mampu untuk menjalani Kehidupan Yang Sesungguhnya yaitu melaksanakan TUGAS & TANGGUNG JAWAB yang sangat berat di bumi ini. 

   AKSI & REAKSI : Oleh karenanya tidak ada yang tidak mampu diselesaikan oleh manusia bila setiap manusia selalu ber-Pedoman Hidup pada Kesempurnaan ROH MANUSIA (‘SPORA’ DIRI Sang Pencipta) yang menjadi JATI DIRInya sendiri.

   Fungsi lain dari ROH Manusia atau ‘Spora’ Diri Sang Pencipta pada Diri setiap manusia adalah menjadi ALAT hitung dan menjadi ALAT pencatat bagi segala perilakunya masing-masing.  Oleh karena itu jangan pernah melupakan walau sekecil apapun, terutama perilaku negatip yang pernah Anda lakukan, karena apa yang Anda alami selama ini,  seluruhnya adalah ‘REAKSI’ dari segala perilaku hidup Anda pribadi.

   Minimnya NALAR Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa akan “BLUE PRINT” tentang AGAMA YANG SESUNGGUHNYA telah membuat :

Ø  Mereka hingga saat ini tidak mampu menentukan mana Pedoman Hidup yang SESUNGGUHNYA dan mana Pedoman Hidup yang BUKAN Sesungguhnya.

AKSI & REAKSI : Akibatnya Mereka hanya mampu mendoktrinasi turunannya maupun masyarakatnya menggunakan AGAMA-AGAMA buatan manusia, yaitu AGAMA-AGAMA yang diproduksi berdasarkan Penafsiran-penafsiran dan asumsi-asumsi pemikiran manusia belaka.

Ø  Mereka hingga saat ini tidak memiliki IMAN yang ta’kan pudar akan Penciptanya.

II. KEWAJIBAN MANUSIA

      1.STATUS / POSISI ROH MANUSIA DI HABITATNYA

         Status atau Posisi ROH Manusia di Habitatnya adalah sebagai PEMEGANG AMANAH TERTINGGI, yaitu menjadi PEMIMPIN untuk mengembalikan KEABADIAN yang pernah diberikan Sang Pencipta kepada seluruh penghuni di bumi ini (tanpa kecuali).  Oleh karenanya agar manusia mampu menjalani hidup yang Proporsional sebagai PEMIMPIN yang AMANAH di bumi ini, maka setiap manusia WAJIB dan HARUS (HARGA MATI) menjalani hidupnya mengikuti ‘REGULASIKepemimpinan Yang Sesungguhnya yaitu ‘POLA Kepemimpinan’ Penciptanya yang selalu menganggap ‘Seimbang’ antara DiriNYA dengan ciptaanNYA.

   Minimnya NALAR Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa akan “BLUE PRINT” tentang STATUS / POSISI ROH MANUSIA di HABITATNYA telah membuat Mereka tidak mampu melakukan perilaku yang PROPORSIONAL akan posisi Mereka di bumi ini, yaitu menjalankan KEPEMIMPINAN untuk mengembalikan KEABADIAN yang pernah diberikan Sang Pencipta kepada seluruh penghuni, di bumi ini.

AKSI & REAKSI : Akibatnya Mereka hanya mampu melakukan Kejahatan Berencana terhadap Penciptanya MENGHANCURKAN bumi dan segala isinya.


2.CARA MENJALANI KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA

                     ROH MANUSIA (ROH Saudara dan Saya) adalah murni terdiri dari ZAT Sang Pencipta yaitu ‘Spora’ Diri Sang Pencipta, maka ‘CARA’ untuk menjalani Kehidupan Yang Sesungguhnya adalah menjalani hidup mengikuti ‘Pola Hidup’ Sang Pencipta yaitu ‘NETRAL’ atau selalu Menganggap SEIMBANG Antara DiriNYA dengan seluruh ciptaanNYA.  

                        
III.  TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA

1.KEGUNAAN MANUSIA BAGI PENCIPTANYA

Kegunaan Manusia Bagi Penciptanya adalah Sebagai ‘ALAT’ Bagi Penciptanya yaitu untuk sepenuhnya Mewakili Sang Pencipta menuntaskan Konteks ‘MISI’ Penciptaan Manusia di Bumi.

Minimnya NALAR Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa akan “BLUE PRINT” tentang Kegunaan Manusia Bagi Penciptanya telah membuat Mereka hanya mampu menjalani hidupnya untuk Mewakili dirinya dan kelompoknya.

AKSI & REAKSI : Akibatnya Mereka tidak pernah mampu mepersatukan Bangsa Indonesia dan Umat manusia secara global.



2.MAKSUD DAN TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA DI BUMI

Maksud dan Tujuan Penciptaan Manusia adalah untuk menuntaskan ‘Target’ MISI Penciptaan Manusia di bumi ini, yaitu untuk ‘MEMIMPIN’ mengembalikan KEHIDUPAN ABADI yang pernah diberikan Penciptanya kepada seluruh penghuni di bumi ini.

Minimnya NALAR Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa akan “BLUE PRINT” tentang MAKSUD dan TUJUAN Penciptaan Manusia di bumi ini telah membuat Mereka hanya mampu menjalani hidupnya untuk secara bersama Menghancurkan Bumi dan segala isinya.



AKSI & REAKSI : Seperti yang telah terjadi pada kehidupan di zaman Dinosaurus dan zaman Manusia Purba yang pernah ada di bumi ini, semuanya dimusnahkan . . , dan tidak sisakan satupun juga di masing-masing kehidupan, karena kalau disisakan akan sangat mengganggu bagi kehidupan berikutnya. . .  !!! 

Maka begitu pula yang akan terjadi pada Kehidupan Manusia, hanya ada Satu Pilihan yaitu : Semua selamat atau semua tidak selamat . .???
AKSI  &  REAKSI

Ø Anda Akan Selalu Merasa Benar Selama Anda Tidak Mengetahui “KEBENARAN YANG SESUNGGUHNYA”

Ø Tegaknya KEADILAN YANG SESUNGGUHNYA adalah Tegaknya  HAK AZASI MANUSIA Yang SAMA  TANPA SYARAT

Ø Terciptanya HARMONISASI KEHIDUPAN dan KEDAMAIAN ABADI adalah Tegaknya HAK AZASI MANUSIA Yang SAMA TANPA SYARAT


B.   PANCASILA YANG SESUNGGUHNYA

Secara Mikro penyebab HARMONISASI KEHIDUPAN dan KEDAMAIAN ABADI ’tak kunjung terwujud di bumi Indonesia maupun di belahan bumi lainnya, adalah :
”Karena Minimnya ’NALAR’ Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa akan Artikulasi’ PANCASILA YANG SESUNGGUHNYA, yang didalamnya mengandung PENJABARAN Langkah-Langkah Strategis pencapaian KEHIDUPAN ABADI sesuai ’BLUE PRINT’ Penciptaan Manusia, yaitu :
                                       
1.      Mengembalikan Funfsi KeAdilan Yang sesungguhnya
2.      Mengembalikan Manusia Menjadi Adil dan Beradab
3.      Mengembalikan Harmonisasi Kehidupan Umat Manusia
4.      Mengembalikan Fungsi Alamiah Kehidupan Manusia di bumi
5.      Mengembalikan Kehidupan Abadi sesuai ’Target’ Penciptanya

Minimnya ’NALAR’ Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa-Bangsa secara Makro maupun Mikro itulah yang menyebabkan :

1.      Mereka selalu merasa benar walau menjalani Kekeliruan Pola Hidupnya dan pula menjerumuskan umat manusia pada Pola Hidup yang menyimpang dari ’Pola’ Penciptanya.

2.      Mereka pun melakukan Pola Kepemimpinan yang menyimpang dari Pola Kepemimpinan Yang Sesungguhnya yang diAmanahkan Sang Pencipta dalam ”BLUE PRINT” Penciptaan Manusia di bumi.

3.      Yang lebih mengerikan lagi minimninya ’NALAR’ Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa mengakibatkan mereka selama ini tidak pernah merasa telah melakukan Sabotase terhadap MISI Penciptaan Manusia di bumi.  
Konsistensi dari Penyimpangan Pola Hidup dan Kepemimpinan yang dilakukan Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa itulah yang mengakibatkan terjadinya suatu kontradiksi atau ketidak-sesuaian Fungsi Kehidupan & Fungsi Kepemimpinan dengan Amanah untuk wajib  menjalani hidup yang berlandaskan MINDSETBLUE PRINT” Penciptaan manusia, akhirnya segenap Bangsa Indonesia dan Umat Manusia secara global menjalani hidup mengikuti Pola Kekuasaan dan Politik dan integritasnya yang faktanya sangat-sangat bertentangan dengan ESSENSI MINDSET ’BLUE PRINT’ Penciptaan Manusia, yaitu : KeAdilan Yang Sesungguhnya.

Singkatnya bukannya HARMONISASI KEHIDUPAN dan KEDAMAIAN ABADI yang terwujud di bumi Indonesia dan dibelahan bumi lainnya, akan tetapi yang terwujud JUSTRU sebaliknya yaitu Umat Manusia secara Global menerima konsekuensi dari ketidak-sesuaian Fungsi Hidup Para Pemimpin & Fungsi Kepemimpinan yaitu Fenomena Alam maupun Fenomena Sosial yang akan mencapai Klimaksnya.


































BAB III PENUTUP


KESIMPULAN

Maksud :

1.       ’Transparansi Komunikasi’ antar sesama Bangsa Indonesia untuk mengetahui dan memahami ’Barometer’ kehidupan berBangsa dan berTanah Air Indonesia sesuai standard Penciptanya, yaitu Pola KeAdilan Yang Sesungguhnya yang telah ditetapkan Sang Pencipta menjadi Sistem Kehidupan dalam ’BLUE PRINT’ Penciptaan Manusia di bumi ini.

2.       Mempersiapkan Para ’Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia’ yang memiliki Mental yang mampu mengaplikasikan KeAdilan Yang Sesungguhnya yang selama ini terkandung pada Kesempurnaan ’ROH’ (JATI DIRI)nya sendiri sebagai ’Jaminan’ Yang Hidup yang dibekali Sang Pencipta agar dirinya mampu mengatasi Multi Dimensi Problema Hidup yang dihadapi Bangsa Indonesia, dan selanjutnya menjadi pilar-pilar yang turut menopang penyelesaian problema hidup umat manusia secara global.

3.       Mengembalikan AZAS KEHIDUPAN Bangsa Indonesia dan Bangsa-Bangsa lainnya kepada AZAS KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA, yaitu setiap warga negara memiliki Hak Azasi Manusia yang SAMA ’Tanpa Syarat’ seperti yang dilakukan Sang Pencipta MENILAI seluruh manusia adalah SAMATanpa Syarat.

Tujuan :

1.      Menempatkan kembali status seluruh Warga Negara Indonesia kepada Fungsi Alamiahnya sebagai pemilik mutlak Negara Republik Indonesia  Tanpa Syarat.

2.      Mewujudkan ’IMAN’ yang ta’kan pernah pudar akan Penciptanya.

3.      Meredam sambil mengikis segala bentuk konflik horizontal, serta mengantisipasi klimaksnya KRISIS KEMANUSIAAN terutama di bumi Indonesia yang diakibatkan oleh Akumulasi maupun Asimilasi antar PROBLEMATIK KEHIDUPAN yang disebabkan Krisis Mentalitas, Krisis Ke-Iman-an maupun Krisis Moralitas yang ditimbulkan atas perbedaan persepsi dalam mengartikan dan mengekspresikan KeAdilan Yang Sesungguhnya di bumi Indonesia dan dibelahan bumi lainnya.

4.      Mewujudkan HARMONISASI KEHIDUPAN  bagi segenap Bangsa Indonesia pada khususnya dan Bangsa-Bangsa lain pada umumnya.

5.      Mewujudkan Perdamaian Dunia secara murni tanpa kekerasan.

6.      Memperoleh kembali KEHIDUPAN ABADI sesuai ’Target’ akhir MISI Penciptaan Manusia di bumi ini.

Nilai Revolusi Mental
·         Integritas (jujur, di percaya, berkarakter, tanggung jawab.)
·         Etos kerja (etos kerja, daya saing, optimis, inovatif  dan produktif)
·         Gotong royong (krja sama, solidaritas, komunal, berorientasi pada kemaksiatan)
Setuju dan tidak setuju dengan adanya revolusi mental.. 
            Makna revolusi adalah perubahan cepat sebagai halnya: Revolusi Sosial, Revolusi Peradaban Manusia , Revolusi Fisik, Revolusi Industri, Revolusi Spiritual Ilmiah, Revolusi Mental..
            revolusi beresiko sangat tinggi , lebih aman reformasi, melainkan memperingatkan bahwa revolusi berisiko tinggi, sebab mempertaruhkan kemapanan dapat berakibat  “kehancuran” atau menghancurkan yang telah mapan , bukan sekedar menata ulang secara bertahap sebagai reformasi.
            Bangsa Indonesia telah melakukan reformasi dan hasilnya telah kita nikmati, namun dalam hal mental bukan semakin baik, melainkan semakin merosot. Kesenjangan sosial semakin parah, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin,
            Keadilan bukan berarti sama rata-sama rasa, melainkan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Yang kewajibannya berat pantas mendapatkan hak lebih banyak dari yang kewajibannya ringan.  Agar dapat  hidup damai, masing-masing harus  mawas diri dan sadar akan  keseimbangan hak dan kewajiban yang “melekat” pada dirinya:  Yang kuat atau berkuasa jangan berlebihan dan menindas yang lemah atau  adigang-adigung, sebaliknya yang lemah  jangan memanfaatkan kelemahannya untuk membangkang menggerogoti yang kuat karena sirik lalu bertindak anarkis.
            Dalam sistem demokrasi kekuasaan bukan datang dari atas, Tuhan Yang Maha Kuasa  yang mengatur segalanya, melainkan dari bawah, dari rakyat yang memberikan  kepercayaan  pada para wakilnya di jajaran Legislatif.
            Ketiga unsur trias politika tersebut tidak boleh bersekongkol untuk menindas rakyat sehingga rakyat tidak lagi punya apa-apa kecuali pilihan  mati atau hidup. Jika rakyat marah, maka akan terjadilah revolusi fisik, menghancurkan segalanya. Agar tidak terjadi revolusi fisik maka harus dilakukan revolusi mental. Mentalnya siapa?  Mental para wakil rakyat, pemimpin dan penegak hukum. Demikian juga mental rakyat.
            Semua pasti setuju: korupsi bersimaharaja lela sehingga menyengsarakan rakyat, akibatnya  rakyat bertindak anargis karena merasa tidak terlindungi nasibnya.  Sebelum terjadi revolusi fisik akan lebih aman dilakukan revolusi mental, itulah sebabnya saya setuju dengan adanya revolusi mental.
  
Jadi Kesimpulan Dari Revolusi Mental.
·         revolusi mental perlu gerakan nasional pada dua tataran sosial politik, yaitu para pejabat dan rakyat sebagai warga negara. Yaitu bagaimana penguasa menjadi pelindung dan pelayan publik yang cakap dan santun, dan bagaimana rakyat dapat menjadi warga negara yang terlindungi, terjamin hak-haknya, dan bertanggung jawab pada lingkungannya.
·         Pendidikan memegang peranan penting untuk mewujudkan revolusi mental.
Karena itu, diperlukan lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan guru yang punya wawasan pedagogis kuat, serta mendesain pendidikan dasar dengan memberikan porsi pada guru sebagai pedagog. Guru harus bisa menjadi teman uang memungkinkan murid dekat dan akrab, serta mampu memberikan inspirasi dengan contoh-contoh konkret.
·         Revolusi mental tidak hanya pada tataran gagasan dan mentalitas semata, melainkan menurunkannya dalam praksis nyata sehari-hari, sehingga dapat betul-betul mengubah masyarakat Indonesia menjadi lebih unggul dan berkarakter.

















DAFTAR PUSTAKA
Dimyati,mudjiono.2009.Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:Rineka Cipta

Revolusi Mental dan Pendidikan Karakter | batampos.co.id

Revolusi Mental dalam Pendidikan « Indoprogress

Revolusi Mental: Menuju Pembangunan Karakter Bangsa

Revolusi Mental oleh Jokowi - Nasional - Kompas.com

Strategi budaya dan Revolusi Mental Sebagai Konsep Baru ...

Revolusi Mental Bisa Dibangun Lewat Pendidikan Sejarah ..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar