REVOLUSI
MENTAL
Nama :
Erwin Nurdiansah
Kelas : BM 4
Mata Kuliah : Kewiraan
NIM :
241.15.05196
KATA
PENGANTAR
Krisis karakter belum
menunjukkan gejala perbaikan. Janji negara hadir di setiap persoalan,
realisasinya masih belum memenuhi harapan publik. Hampir satu tahun
pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla,
implementasi revolusi mental belum terlihat. Jangan sampai revolusi mental
tinggal slogan semata. Gotong
royong yang menjadi nilai fundamental bangsa, yang seharusnya dimaknai sikap
saling tolong-menolong dalam kebaikan dan pembangunan, malah memudar. Gotong
royong kini menonjol dari sisi negatif, tolong-menolong dalam kejahatan dan
perusakan.
Dari
sisi kualitas, pelayanan negara kepada rakyat juga belum optimal. Reformasi
birokrasi belum mampu menciptakan aparatur sipil negara yang bekerja keras,
bekerja tangkas, dan gigih untuk meraih mutu terbaik melayani rakyat.
Nilai-nilai luhur seperti kejujuran, amanah, dan bersih masih kerap diabaikan.
Revolusi mental diyakini bisa membawa
bangsa Indonesia menjadi karakter yang kuat, jujur, dan beretot kerja tinggi
sehingga mampu menyusul keberhasilan Singapura, Jepang, dan Korea Selatan.
Cara terbaik adalah melibatkan
partisipasi berbagai agen sosial dari kalangan masyarakat sipil, masyarakat
media, pekerja budaya, dunia pendidikan, dan dunia usaha,
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN ……………………………………………………………………………………………………………..
B. TUJUAN REVOLUSI MENTAL
………………………………………………………………………………………
C. PRINSIP REVOLUSI MENTAL
……………………………………………………………………………………….
BAB II ISI
A. BLUE PRINT PENCIPTAAN MANUSIA…………………………………………………………………………..
I.HAK
ASASI MANUSIA
II.KEWAJIBAN
MANUSIA
III.TUGAS
DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA
B. PANCASILA YANG SESUNGGUHNYA
………………………………………………………………………….
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
…………………………………………………………………………………………………………………………
DAFTAR PUSTAKA
…………………………………………………………………………………………………………………
BAB
I PENDAHULUAN
A.
PENGERTIAN
Revolusi
mental merupakan suatu gerakan seluruh masyarakat (pemerintah dan rakyat) dengan cara yang cepat untuk
mengangkat kembali nilai‐nilai
strategis yang diperlukan oleh Bangsa dan Negara. untuk mampu menciptakan
ketertiban dan kesejahteraan rakyat sehingga dapat memenangkan persaingan di
era globalisasi.
Revolusi Mental
mengubah cara pandang, pikiran, sikap, perilaku yang berorientasi pada kemajuan
dan kemodernan, sehingga Indonesia menjadi bangsa besar dan mampu berkompetisi
dengan bangsa‐bangsa
lain di dunia.
B.
Tujuan
Revolusi Mental
·
Mengubah cara pandang, pikir dan sikap,
perilaku dan cara kerja.
·
Membangkitkan kesadaran dan membangun
sikap optimstik.
·
Mewujudkan Indonesia yang berdaulat,
berdikari, dan berkepribadian.
C.
Prinsip
Revolusi Mental
·
Bukan Proyek tapi gerakan sosial
·
Ada tekad politik untuk menjamin
kesungguhan pemerintah
·
Harus Bersifat lintas-sektoral
·
Bersifat partisipatif (kolaborasi
pemerintah, masyarakat sipil, sektor privat, dan akademisi)
·
Diawali dengan pemicu (value attack)
·
Desain program harus ramah pengguna,
popular, menjadi bagian dari gaya hidup, dan sistemik-holistik
(berencana-semesta)
·
Nilai-nilai yang dikembangkan bertujuan
mengatur kehidupan sosial (moralitas publik)
·
Dapat diukur dampaknya.
Strategi
internalisasi
·
Jalur birokrasi
·
Jalur pendidikan
·
Jalur swasta
·
Jalur kelompok masyarakat
I.
Jalur Birokrasi
Internalisasi 3 nilai revolusi mental Pada
kementerian/lembaga melalui :
·
pembentukan gugus tugas dan pic
·
tersusunnya program, kegiatan nyata ,
dan indikator k/l, berbasis nilai-nilai revolusi mental.
·
peningkatan pelatihan rm di badan
diklat/pusdiklat/balai diklat
·
menjadi contoh tauladan (role model)
II. Jalur pendidikan
·
memperkuat kurikulum pendidikan
kewargaan pada semua jenjang, jenis dan jalur pendidikan, untuk membangun
integritas, membentuk etos kerja keras dan semangat gotong royong
·
ektra kurikuler revolusi mental di
sekolah
·
meningkatnya sarana pendidikan yang
merata
·
meningkatnya kompetensi guru dalam
mendukung revolusi mental
III.
Jalur Swasta
·
Memperkuat kemitraan antara pengusaha
kecil dengan pengusaha besar.
·
Insentif pengurangan pajak bagi
pengusaha Indonesia yang mengembangkan produk local inovatif
·
Instruksi Presiden kepada pengusaha
media untuk berkolaborasi mempromosikan revolusi mental ( pemasangan iklan,
iklan produk, in-line text)
·
Mendukung inisiatif usaha kecil menengah
menbuka pasar/sentra yang menjual produk lokal yang inovatif, kreatif dan harga
terjangkau.
·
Pengembangan lembaga keuangan mikro di
desa.
IV.
Jalur kelompok masyarakat
·
Pembudayaan 3 nilai Revolusi Mental
melalui kelompok masyarakat seperti: Lembaga Sosial, Komunitas Seni Budaya,
Komunitas Kreatif, Karang Taruna, BKB (Bina Keluarga Balita), Kelompok Tani,
PKK, Remaja Mesjid, Posyandu, Komunitas, dll.
·
Internalisasi nilai RM melalui paket
pertemuan kelompok (modul), dengan berbagai media dan metoda seperti; diskusi
kelompok, ceramah, kasus, games, bermain peran, online (sesuai buku pedoman
yang akan disiapkan bagi fasilitator)
·
Membangun Role Model.
·
Apresiasi terhadap Kelompok Masyarakat
·
Keteladanan oleh tokoh maupun masyarakat
lainnya
BAB II ISI
A.
BLUE PRINT’
PENCIPTAAN MANUSIA
Secara Makro penyebab
HARMONISASI KEHIDUPAN dan KEDAMAIAN ABADI yang ’tak kunjung terwujud di bumi
Indonesia maupun dibelahan bumi lainnya, adalah :
Karena Minimnya
’NALAR’ Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa
akan ’BLUE PRINT’ Penciptaan Manusia di bumi ini.
Konteks ’BLUE PRINT’
Penciptaan Manusia adalah :
I.
HAK AZASI MANUSIA
II.
KEWAJIBAN MANUSIA
III.
TUGAS
& TANGGUNG JAWAB MANUSIA
I.
HAK AZASI MANUSIA
1.
STRUKTURAL ALAMIAH ROH MANUSIA (JATI DIRI MANUSIA)
Secara Historis…, Sang Pencipta menciptakan bumi dan segala isinya cukup
hanya dengan ucapan, namun lain halnya pada saat Sang Pencipta menciptakan
manusia. Manusia Pertama (Adam)
diciptakan Sang Pencipta dengan membentuk tubuh Adam dari unsur
tanah, setelah membentuk tubuh Adam dalam bentuk tubuh Manusia seperti bentuk
tubuh saudara dan saya, lalu Sang Pencipta menghebuskan bahagian NafasNYA (Nafas = Kehidupan) kepada
tubuh Adam melalui alat pernafasannya.
Menyatunya bahagian Nafas
yang dihembuskan Sang Pencipta kepada tubuh adam, maka tubuh Adam yang semula
terbuat dari tanah langsung berubah seketika itu juga menjadi daging Tubuh
Manusia yang Hidup Sempurna seperti Saudara dan Saya.
Secara Ilmiah…, bahagian Nafas Sang Pencipta yang diberikan atau yang dihembuskan Sang Pencipta
dan menyatu pada tubuh Adam adalah yang kita namakan ROH MANUSIA.
Secara
Struktural Alamiah ROH MANUSIA yang selama ini telah
dikembang-biakan Adam & Hawa melalui proses keturunan dan sekarang ini
bersemayam menjadi JATI DIRI Saudara
dan Saya, adalah dinamakan ‘SPORA’ DIRI Sang Pencipta yang tentunya
memiliki bahagian Kesempurnaan
Penciptanya.
Secara Pilosofi ‘SPORA’ Diri Sang
Pencipta yang di-Amanahkan dan dipercayakan sepenuhnya oleh Sang Pencipta bagi
kehidupan setiap manusia, adalah merupakan ‘JAMINAN’ yang hidup agar Saudara dan Saya dan umat manusia mampu
menyelesaikan Tugas dan Tanggung Jawabnya sesuai
‘MISI’ Sang
Pencipta menciptaan Manusia di bumi ini.
Fungsi
Alamiah ROH MANUSIA (ROH Saudara dan Saya) yang memiliki Kesempurnaan Penciptanya adalah :
dijadikan Satu-Satunya ‘ANDALAN’
oleh Sang Pencipta (di bumi ini)
untuk menuntaskan ‘MISI’ Penciptaan Manusia sesuai ‘TARGET’ Penciptanya. Oleh karenanya adalah Sangat Keliru bila ada Persepsi atau Pemikiran atau
Ideologi yang
menyatakan bahwa : Sang Pencipta menciptakan manusia hanya untuk menyembah dan menyembahNYA.
Minimnya
NALAR Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa
Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa akan ‘BLUE PRINT’ tentang JATI DIRInya yaitu ‘Spora’ Diri Sang Pencipta yang memiliki
KESEMPURNAAN yang berasal dari
Penciptanya, telah mambuat mereka tidak
mampu memahami :
UNTUK APA Kapasitas Sang Pencipta mem-FASILITASI manusia dengan KESEMPURNAAN yang langsung berasal dari
DiriNYA.
Minimnya
NALAR akan ROH Manusia yang memiliki KESEMPURNAAN
Penciptanya telah membuat mereka :
Ø Keliru menilai ROH
Manusia (‘Spora’ Diri Sang Pencipta)
yang selama ini ada pada dirinya sendiri, yang Mutlak menjadi HAK AZASI (Pribadi)
setiap manusia Yang Sesungguhnya
diberikan Sang Pencipta untuk menjadi ‘Jaminan
Yang Hidup’ bagi setiap manusia yang kapasitasnya mampu untuk mengetahui,
mampu untuk memahami dan mampu untuk memenuhi segala Tuntutan Sang Pencipta
terhadap kehidupan manusia di bumi ini.
AKSI &
REAKSI : Kekeliruan itu mengakibatkan Mereka tidak
memiliki Mental yang mampu
untuk menjalani hidup sesuai “BLUE PRINT”
Penciptaan Manusia di bumi ini, atau dengan kata lain telah
mengakibatkan Mereka tidak
mampu menjalani hidup sesuai Harapan (Amanah) Penciptanya.
Ø
Selalu
menganggap dirinya Tidak Sempurna.
AKSI & REAKSI : Anggapan
ketidak
sempurnaan itu mengakibatkan Mereka selalu memaklumi
kesalahan-kesalahan fatal yang Mereka perbuat dan selalu memaklumi
kesalahan-kesalahan fatal yang diperbuat sesamanya Pemimpin. Yang lebih parah lagi bila terjadi hal-hal atau Problema (seperi :
Fenomena Alam maupun Fenomena Sosial Masyarakat) yang tidak mampu mereka
selesaikan . . . , mereka hanya mampu Pasrah,
menjadi Lemah dan mereka selalu menganggap bahwa semua itu adalah sudah
menjadi Keinginan Sang Pencipta, padahal hal itu jelas-jelas terjadi
karena Kesalahan mereka sendiri.
Ø
Tidak mampu
menjalani kehidupan sesuai ‘Target’
Penciptaan Manusia di bumi ini.
AKSI & REAKSI : Tragisnya
Mereka selalu merasa benar dan selalu merasa bangga telah mampu
melakukan mengajarkan serta mendoktrinasi kekeliruan Ideologi mereka, kepada
turunan maupun masyarakatnya yang ternyata hanya
mampu menjalani kehidupan yang sia-sia
bagi Penciptanya.
Ø
Tidak sadar
bahwa manusia diciptakan oleh
Penciptanya adalah (Harga Mati) hanya
untuk Kepentingan Penciptanya.
AKSI & REAKSI : Akibatnya
Mereka bersikap keras, tamak, psikopad mendahulukan
kepentingan Pribadi, Kelompok
dan Ras mereka, sehingga menimbulkan polemik-polemik yang sarat
akan konflik-konflik yang mengorbankan materi dan jiwa-jiwa manusia yang tak
terhitung jumlahnya.
Ø
Tidak akan
mampu menyelesaikan Multi Dimensi
Problema Hidup yang selama ini dihadapi Bangsa Indonesia pada khususnya dan
KRISIS KEMANUSIAAN yang dihadapi umat manusia pada umumnya yang terjadi akibat Akumulasi
dan Asimilasi
antar Krisis Mentalitas, Krisis Ke-Imanan maupun Krisis Moralitas yang
berkepanjangan.
AKSI & REAKSI : Akibatnya
membuat Multi Dimensi Problema Hidup dan KRISIS KEMANUSIAAN itu MUSTAHIL
dapat diselesaikan dengan menggunakan Akal-Pikiran Manusia, dan saat ini hampir
mencapai Klimaksnya.
2.
ARTI KEHIDUPAN ROH MANUSIA
Artikulasi ROH MANUSIA atau ‘Spora’ Diri Sang Pencipta yang diAmanahkan dan diPercayakan Penciptanya
kepada setiap manusia (Saudara dan Saya) adalah menjadi WAKIL Sang Pencipta
untuk melaksanakan Kehendak (KEWAJIBAN, TUGAS
dan TANGGUNG-JAWAB) yang di Amanahkan Sang Pencipta di bumi ini, yaitu untuk
mengembalikan Kehidupan Abadi yang pernah diberikan Sang Pencipta kepada
seluruh penghuni di bumi (tanpa kecuali).
Kepercayaan
Sang Pencipta terhadap ‘Spora’ DiriNYA yang
menjadi
JATI DIRI setiap Manusia itulah . . .
, yang membuat
Sang
Pencipta tidak perlu hadir di bumi ini
Minimnya NALAR
Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa akan “BLUE PRINT” tentang Artikulasi
Kehidupan ROH Manusia di bumi ini, telah membuat :
Ø
Mereka
Tidak Mampu mengekspresikan Kehidupan Yang Sesungguhnya, yaitu Kehidupan
yang Berarti bagi tuntasnya Misi Penciptaan Manusia di bumi ini.
AKSI &
REAKSI : Akibatnya timbulah Problematik
Kehidupan yang disebabkan oleh perbedaan persepsi dalam
meng-Artikulasikan, meng-Ekspresikan atau
meng-Iplmentasikan Kehidupan Yang
Sesungguhnya di bumi ini.
Ø
Mereka Tidak
mampu mengarahkan keturunannya, masyarakatnya untuk sanggup menjalani kehidupan yang
berguna bagi tuntasnya MISI
Penciptaan Manusia sesuai ‘Target’
Penciptaan Manusia di bumi ini.
AKSI &
REAKSI : Akibatnya umat manusia hanya
mampu hidup terbelenggu oleh Problema
Hidupnya masing-masing tanpa mampu untuk mengetahui lalu melaksanakan Kewajiban, Tugas dan Tanggung-Jawab
yang diAmanahkan Penciptanya di bumi ini.
3. AGAMA YANG
SESUNGGUHNYA (PEDOMAN HIDUP YANG SESUNGGUHNYA)
Disisi lain ROH MANUSIA yaitu ‘Spora’ Diri Sang Pencipta atau ZAT Sang Pencipta yang memiliki ‘Pengetahuan’ Penciptanya itu diberikan
kepada setiap manusia adalah untuk menjadi ‘SOSOK’ Agama Yang Hidup
(Agama yang diberikan
langsung dan
memiliki KESEMPURNAAN
Penciptanya) dan menjadi
Satu-Satunya ‘Pedoman’ yang mampu
membimbing serta memotivasi setiap manusia sanggup
menjalani kehidupan sesuai “BLUE PRINT” Penciptaan Manusia di bumi ini.
Sang Pencipta membekali manusia dengan AGAMA YANG SESUNGGUHNYA yaitu ‘Spora’ DiriNYA yang memiliki Kesempurnaan Pencipta, kepada manusia (Adam & Hawa) adalah karena manusia
membutuhkan ‘PEDOMAN’ yang kualitasnya mampu untuk menjalani Kehidupan Yang Sesungguhnya yaitu melaksanakan
TUGAS & TANGGUNG JAWAB yang sangat berat di bumi ini.
AKSI & REAKSI : Oleh
karenanya tidak ada yang tidak mampu diselesaikan oleh manusia bila
setiap manusia selalu ber-Pedoman Hidup
pada Kesempurnaan ROH MANUSIA (‘SPORA’ DIRI Sang Pencipta) yang menjadi JATI DIRInya sendiri.
Fungsi lain dari ROH Manusia atau ‘Spora’ Diri Sang Pencipta pada Diri setiap
manusia adalah menjadi ALAT hitung dan menjadi ALAT
pencatat bagi segala perilakunya masing-masing.
Oleh karena itu jangan pernah melupakan
walau sekecil apapun, terutama perilaku negatip yang pernah Anda lakukan,
karena apa yang Anda alami selama ini,
seluruhnya adalah ‘REAKSI’ dari segala perilaku hidup Anda pribadi.
Minimnya NALAR Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa
Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa akan “BLUE PRINT” tentang AGAMA
YANG SESUNGGUHNYA telah membuat :
Ø Mereka
hingga saat ini tidak mampu menentukan mana Pedoman Hidup yang SESUNGGUHNYA
dan mana Pedoman Hidup yang BUKAN
Sesungguhnya.
AKSI &
REAKSI : Akibatnya Mereka hanya mampu
mendoktrinasi turunannya maupun masyarakatnya menggunakan AGAMA-AGAMA buatan manusia, yaitu AGAMA-AGAMA yang diproduksi berdasarkan
Penafsiran-penafsiran dan asumsi-asumsi pemikiran
manusia belaka.
Ø Mereka
hingga saat ini tidak memiliki IMAN
yang ta’kan pudar akan Penciptanya.
II. KEWAJIBAN
MANUSIA
1.STATUS / POSISI ROH MANUSIA DI HABITATNYA
Status
atau Posisi ROH Manusia di
Habitatnya adalah sebagai PEMEGANG
AMANAH TERTINGGI, yaitu menjadi PEMIMPIN untuk mengembalikan KEABADIAN yang pernah diberikan Sang
Pencipta kepada seluruh penghuni di bumi ini (tanpa kecuali). Oleh karenanya agar manusia mampu
menjalani hidup yang Proporsional sebagai PEMIMPIN yang AMANAH di bumi ini, maka setiap manusia WAJIB dan HARUS (HARGA MATI) menjalani hidupnya
mengikuti ‘REGULASI’ Kepemimpinan Yang Sesungguhnya yaitu ‘POLA Kepemimpinan’ Penciptanya yang
selalu menganggap ‘Seimbang’ antara
DiriNYA dengan ciptaanNYA.
Minimnya NALAR Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin
Bangsa-Bangsa akan “BLUE PRINT”
tentang STATUS / POSISI ROH MANUSIA di
HABITATNYA telah membuat Mereka
tidak mampu melakukan perilaku yang PROPORSIONAL akan posisi Mereka di bumi
ini, yaitu menjalankan KEPEMIMPINAN
untuk mengembalikan KEABADIAN yang
pernah diberikan Sang Pencipta kepada seluruh penghuni, di bumi ini.
AKSI &
REAKSI : Akibatnya Mereka
hanya mampu melakukan Kejahatan Berencana terhadap Penciptanya MENGHANCURKAN
bumi dan segala isinya.
2.CARA
MENJALANI KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA
ROH
MANUSIA (ROH Saudara dan Saya) adalah murni
terdiri dari ZAT Sang Pencipta yaitu
‘Spora’ Diri Sang Pencipta, maka ‘CARA’ untuk menjalani Kehidupan Yang Sesungguhnya adalah
menjalani hidup mengikuti ‘Pola Hidup’
Sang Pencipta yaitu ‘NETRAL’ atau selalu
Menganggap ‘SEIMBANG’ Antara DiriNYA
dengan seluruh ciptaanNYA.
III.
TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA
1.KEGUNAAN
MANUSIA BAGI PENCIPTANYA
Kegunaan Manusia
Bagi Penciptanya adalah Sebagai ‘ALAT’ Bagi Penciptanya yaitu untuk sepenuhnya Mewakili Sang
Pencipta menuntaskan Konteks ‘MISI’ Penciptaan Manusia di Bumi.
Minimnya NALAR Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin
Bangsa-Bangsa akan “BLUE PRINT”
tentang Kegunaan Manusia Bagi
Penciptanya telah membuat Mereka
hanya mampu menjalani hidupnya untuk Mewakili dirinya dan kelompoknya.
AKSI &
REAKSI : Akibatnya Mereka tidak
pernah mampu
mepersatukan
Bangsa Indonesia dan Umat manusia secara global.
2.MAKSUD DAN TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA DI BUMI
Maksud dan Tujuan Penciptaan Manusia adalah untuk
menuntaskan ‘Target’ MISI Penciptaan
Manusia di bumi ini, yaitu untuk ‘MEMIMPIN’ mengembalikan KEHIDUPAN ABADI yang pernah diberikan Penciptanya kepada seluruh
penghuni di bumi ini.
Minimnya NALAR Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin
Bangsa-Bangsa akan “BLUE PRINT”
tentang MAKSUD dan TUJUAN Penciptaan Manusia di bumi ini
telah membuat Mereka hanya mampu menjalani hidupnya untuk secara bersama Menghancurkan
Bumi dan segala isinya.
AKSI & REAKSI
: Seperti yang telah terjadi pada kehidupan di zaman Dinosaurus dan zaman Manusia
Purba yang pernah ada di bumi ini, semuanya dimusnahkan . . , dan tidak sisakan satupun juga di masing-masing kehidupan, karena kalau disisakan akan sangat mengganggu bagi
kehidupan berikutnya. . . !!!
Maka begitu pula yang akan terjadi pada Kehidupan Manusia,
hanya ada Satu Pilihan yaitu : Semua
selamat atau semua tidak selamat
. .???
AKSI & REAKSI
Ø Anda Akan Selalu Merasa Benar
Selama Anda Tidak Mengetahui “KEBENARAN YANG SESUNGGUHNYA”
Ø Tegaknya KEADILAN YANG SESUNGGUHNYA adalah Tegaknya HAK AZASI MANUSIA Yang SAMA ‘TANPA SYARAT’
Ø Terciptanya HARMONISASI KEHIDUPAN dan KEDAMAIAN
ABADI adalah Tegaknya HAK AZASI
MANUSIA Yang SAMA ‘TANPA
SYARAT’
B.
PANCASILA YANG SESUNGGUHNYA
Secara Mikro penyebab HARMONISASI KEHIDUPAN dan KEDAMAIAN ABADI ’tak
kunjung terwujud di bumi Indonesia maupun di belahan bumi lainnya, adalah :
”Karena Minimnya ’NALAR’ Para
Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa akan ‘Artikulasi’ PANCASILA YANG
SESUNGGUHNYA, yang
didalamnya mengandung PENJABARAN Langkah-Langkah Strategis
pencapaian KEHIDUPAN ABADI sesuai
’BLUE PRINT’ Penciptaan Manusia, yaitu :
1.
Mengembalikan Funfsi KeAdilan
Yang sesungguhnya
2.
Mengembalikan Manusia Menjadi Adil dan Beradab
3.
Mengembalikan Harmonisasi Kehidupan Umat Manusia
4.
Mengembalikan Fungsi
Alamiah Kehidupan Manusia di bumi
5.
Mengembalikan Kehidupan
Abadi sesuai ’Target’ Penciptanya
Minimnya ’NALAR’ Para Pemimpin-Pemimpin
Bangsa-Bangsa secara Makro maupun Mikro itulah yang menyebabkan :
1.
Mereka selalu merasa
benar walau menjalani Kekeliruan
Pola Hidupnya dan pula
menjerumuskan umat manusia pada Pola Hidup yang menyimpang dari ’Pola’ Penciptanya.
2.
Mereka pun melakukan Pola
Kepemimpinan yang menyimpang dari Pola Kepemimpinan Yang Sesungguhnya yang
diAmanahkan Sang Pencipta dalam ”BLUE
PRINT” Penciptaan Manusia di bumi.
3.
Yang lebih
mengerikan lagi minimninya ’NALAR’ Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia dan
Para Pemimpin Bangsa-Bangsa mengakibatkan mereka selama ini tidak pernah merasa telah melakukan Sabotase terhadap MISI
Penciptaan Manusia di bumi.
Konsistensi
dari Penyimpangan Pola Hidup dan Kepemimpinan yang dilakukan Para Pemimpin-Pemimpin Bangsa
Indonesia dan Para Pemimpin Bangsa-Bangsa itulah yang mengakibatkan terjadinya
suatu kontradiksi atau ketidak-sesuaian Fungsi Kehidupan & Fungsi Kepemimpinan
dengan Amanah untuk wajib menjalani
hidup yang berlandaskan MINDSET ”BLUE PRINT” Penciptaan manusia, akhirnya segenap Bangsa Indonesia dan Umat
Manusia secara global menjalani hidup mengikuti Pola Kekuasaan dan Politik dan
integritasnya yang faktanya
sangat-sangat bertentangan dengan ESSENSI MINDSET ’BLUE PRINT’ Penciptaan Manusia, yaitu : KeAdilan Yang
Sesungguhnya.
Singkatnya
bukannya HARMONISASI KEHIDUPAN dan KEDAMAIAN ABADI yang terwujud di bumi
Indonesia dan dibelahan bumi lainnya, akan tetapi yang terwujud JUSTRU sebaliknya yaitu Umat Manusia secara Global
menerima konsekuensi dari ketidak-sesuaian
Fungsi Hidup Para Pemimpin & Fungsi Kepemimpinan
yaitu Fenomena Alam
maupun Fenomena Sosial yang akan mencapai
Klimaksnya.
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
Maksud :
1. ’Transparansi
Komunikasi’ antar sesama
Bangsa Indonesia untuk mengetahui dan memahami ’Barometer’ kehidupan berBangsa dan berTanah Air Indonesia sesuai
standard Penciptanya, yaitu Pola KeAdilan Yang Sesungguhnya yang telah ditetapkan Sang Pencipta menjadi Sistem Kehidupan dalam ’BLUE PRINT’
Penciptaan Manusia di bumi ini.
2. Mempersiapkan Para ’Pemimpin-Pemimpin Bangsa Indonesia’
yang memiliki Mental yang mampu mengaplikasikan KeAdilan Yang Sesungguhnya yang
selama ini terkandung pada Kesempurnaan ’ROH’
(JATI DIRI)nya sendiri sebagai ’Jaminan’
Yang Hidup yang dibekali Sang Pencipta agar dirinya mampu mengatasi Multi
Dimensi Problema Hidup yang dihadapi Bangsa Indonesia, dan selanjutnya menjadi
pilar-pilar yang turut menopang penyelesaian problema hidup umat manusia secara
global.
3. Mengembalikan AZAS KEHIDUPAN Bangsa Indonesia dan
Bangsa-Bangsa lainnya kepada AZAS KEHIDUPAN YANG SESUNGGUHNYA, yaitu setiap warga negara memiliki
Hak Azasi Manusia yang SAMA ’Tanpa
Syarat’ seperti yang dilakukan Sang Pencipta MENILAI seluruh manusia adalah SAMA’Tanpa Syarat’.
Tujuan :
1. Menempatkan kembali status seluruh Warga Negara Indonesia kepada Fungsi
Alamiahnya sebagai pemilik mutlak
Negara Republik Indonesia ’Tanpa Syarat’.
2. Mewujudkan ’IMAN’ yang ta’kan pernah pudar akan
Penciptanya.
3.
Meredam sambil mengikis segala bentuk konflik horizontal, serta
mengantisipasi klimaksnya KRISIS KEMANUSIAAN terutama di bumi Indonesia yang
diakibatkan oleh Akumulasi maupun Asimilasi antar PROBLEMATIK
KEHIDUPAN yang disebabkan Krisis
Mentalitas, Krisis Ke-Iman-an maupun
Krisis Moralitas yang ditimbulkan
atas perbedaan persepsi dalam mengartikan
dan mengekspresikan KeAdilan
Yang Sesungguhnya di bumi Indonesia dan dibelahan bumi lainnya.
4.
Mewujudkan
HARMONISASI KEHIDUPAN bagi segenap
Bangsa Indonesia pada khususnya dan Bangsa-Bangsa lain pada umumnya.
5.
Mewujudkan Perdamaian Dunia secara murni tanpa
kekerasan.
6.
Memperoleh
kembali KEHIDUPAN ABADI sesuai
’Target’ akhir MISI Penciptaan Manusia di bumi ini.
Nilai Revolusi Mental
·
Integritas
(jujur,
di percaya, berkarakter, tanggung jawab.)
·
Etos
kerja (etos kerja, daya saing, optimis, inovatif dan produktif)
·
Gotong
royong (krja sama, solidaritas, komunal, berorientasi pada
kemaksiatan)
Setuju
dan tidak setuju dengan adanya revolusi mental..
Makna
revolusi adalah perubahan cepat sebagai halnya: Revolusi Sosial, Revolusi
Peradaban Manusia , Revolusi Fisik, Revolusi Industri, Revolusi Spiritual
Ilmiah, Revolusi Mental..
revolusi
beresiko sangat tinggi , lebih aman reformasi,
melainkan memperingatkan bahwa revolusi berisiko tinggi, sebab
mempertaruhkan kemapanan dapat berakibat “kehancuran” atau
menghancurkan yang telah mapan , bukan sekedar menata ulang secara bertahap
sebagai reformasi.
Bangsa
Indonesia telah melakukan reformasi dan hasilnya telah kita nikmati, namun
dalam hal mental bukan semakin baik, melainkan semakin merosot. Kesenjangan
sosial semakin parah, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin,
Keadilan
bukan berarti sama rata-sama rasa, melainkan keseimbangan antara hak dan
kewajiban. Yang kewajibannya berat pantas mendapatkan hak lebih banyak dari
yang kewajibannya ringan. Agar dapat hidup damai, masing-masing
harus mawas diri dan sadar akan keseimbangan hak dan kewajiban yang
“melekat” pada dirinya: Yang kuat atau berkuasa jangan berlebihan dan
menindas yang lemah atau adigang-adigung, sebaliknya yang lemah
jangan memanfaatkan kelemahannya untuk membangkang menggerogoti yang kuat
karena sirik lalu bertindak anarkis.
Dalam
sistem demokrasi kekuasaan bukan datang dari atas, Tuhan Yang Maha Kuasa
yang mengatur segalanya, melainkan dari bawah, dari rakyat yang memberikan
kepercayaan pada para wakilnya di jajaran Legislatif.
Ketiga
unsur trias politika tersebut tidak boleh bersekongkol untuk
menindas rakyat sehingga rakyat tidak lagi punya apa-apa kecuali pilihan mati
atau hidup. Jika rakyat marah, maka akan terjadilah revolusi fisik,
menghancurkan segalanya. Agar tidak terjadi revolusi fisik maka harus dilakukan
revolusi mental. Mentalnya siapa? Mental para wakil rakyat, pemimpin dan
penegak hukum. Demikian juga mental rakyat.
Semua
pasti setuju: korupsi bersimaharaja lela sehingga menyengsarakan rakyat,
akibatnya rakyat bertindak anargis karena merasa tidak terlindungi
nasibnya. Sebelum terjadi revolusi fisik akan lebih aman dilakukan
revolusi mental, itulah sebabnya saya setuju dengan adanya revolusi mental.
·
revolusi mental perlu gerakan nasional
pada dua tataran sosial politik, yaitu para pejabat dan rakyat sebagai warga
negara. Yaitu bagaimana penguasa menjadi pelindung dan pelayan publik yang
cakap dan santun, dan bagaimana rakyat dapat menjadi warga negara yang
terlindungi, terjamin hak-haknya, dan bertanggung jawab pada lingkungannya.
·
Pendidikan memegang peranan penting
untuk mewujudkan revolusi mental.
Karena itu, diperlukan lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan guru yang punya wawasan pedagogis kuat, serta mendesain pendidikan dasar dengan memberikan porsi pada guru sebagai pedagog. Guru harus bisa menjadi teman uang memungkinkan murid dekat dan akrab, serta mampu memberikan inspirasi dengan contoh-contoh konkret.
Karena itu, diperlukan lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan guru yang punya wawasan pedagogis kuat, serta mendesain pendidikan dasar dengan memberikan porsi pada guru sebagai pedagog. Guru harus bisa menjadi teman uang memungkinkan murid dekat dan akrab, serta mampu memberikan inspirasi dengan contoh-contoh konkret.
·
Revolusi mental tidak hanya pada tataran
gagasan dan mentalitas semata, melainkan menurunkannya dalam praksis nyata
sehari-hari, sehingga dapat betul-betul mengubah masyarakat Indonesia menjadi
lebih unggul dan berkarakter.
DAFTAR
PUSTAKA
Dimyati,mudjiono.2009.Belajar
dan Pembelajaran.Jakarta:Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar